(Tulungagung) Pusat Pendidikan Hak Asasi Manusia dan Islam (PusdikHAMI) IAIN Tulungagung berkerja sama dengan Majelis Luhu Penghayat Kepercayaan Indonesian (LMKI) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan seminar bertajuk “Eksistensi dan Kontribusi Perempuan Penghayat terhadap Kebangsaan dan Kebhinnekaan” pada Minggu, 19 April 2015. Seminar diselenggarakan di Aula Rektorat IAIN Tulungagung.
Seminar dihadiri oleh tidak kurang 200 delegasi dari pelbagai komunitas dan paguyuban organisasi penghayat di seluruh Jawa Timur. Seminar dihadiri oleh Kasubdit Direktorat Penghayat Kepercayaan, Dra. Wigati, juga Ketua Presidium Pusat LMKI, Naen Soerjono, SH., MH.
Dalam kesempatan tersebut, Majelis Luhur Penghayat Kepercayaan Jawa Timur juga secara resmi mendeklarasikan berdirinya organisasi Perempuan Penghayat. Ini merupakan organisasi otonom di bawah MLKI yang secara khusus mengemban misi pembedayaan perempuan penghayat.
(Tulungagung) Pada sekira akhir abad ke-19 silam, perbudakan bangsa Afrika dihapuskan. Untuk mengisi pekerja di perkebunan yang kosong, Belanda yang saat itu menjajah Nusantara membawa orang-orang Jawa ke tanah jauh, Suriname. Mereka dipekerjakan sebagai kuli kontrak. Ada yang datang sukarela, ada juga yang dipaksa dengan cara diculik dari desa-desa.
Orang keturunan Jawa tersebut kemudian menyebar di Suriname, beranak pinak. Tanpa menanggalkan budaya aslinya: Jawa. Maka tak heran ada desa bernama Tamanredjo dan Tamansari. Menurut catatan, ada 65.000 orang di Suriname dan 30.000 di Belanda yang menggunakan Bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari.
Segala hal tentang Jawa pun kemudian berlanjut seiring bertambahnya populasi orang Jawa dan keturunannya di Suriname. Dan selain budaya, wong Jawa di Suriname juga masih memeluk agama asal mereka, Islam. Salah satu orang Jawa Suriname bahkan mendedikasikan diri untuk menyebarkan Islam. Namanya Soedirman Moentari yang kini tinggal di Den Haag - Belanda.